Sunday, June 11, 2006

Menghilangkan Kemalasan?



Dapatkah kemalasan dihilangkan?

Menurut saya, tidak! Kemalasan adalah absen-nya sesuatu, kemalasan itu
karena ada sesuatu yang tidak ada!
Jadi bagaimana menghilangkan sesuatu yang ndak ada?

Kemalasan terjadi karena ketiadaan semangat. Dari manakah datangnya
semangat?
Semangat tidak bisa dipaksakan. Anda bisa memaksakan diri anda untuk
menjadi rajin, tidak malas. Tapi sebenarnya anda masih malas! Jadi
kerajinan anda itu tidak mengalir dari dalam, semu, dan hanya sementara
saja.

Semangat yang sebenarnya adalah semangat yang muncul secara spontan,
mengalir tanpa paksaan dari mana pun. Semangat yang muncul karena anda
mencintai dan benar-benar menyukai.

Kalau anda belajar untuk menyukai, dan mencintai, maka semangat akan
datang dengan sendirinya. Anda ndak mungkin menyukai apa yang anda
benci, dan karenanya anda juga tidak dapat memaksakan datangnya
semangat. Akhirnya, kemalasan akan tetap ada sampai kapanpun.

Friday, June 9, 2006

Bedanya Sains dan Agama



Membaca artikel sains populer, rasa-rasanya memang ndak sulit. Tapi itu baru sebagian sangat kecil dari keseluruhannya. Sains yang sesungguhnya bukan untuk semua orang. Hanya yang khusus menempuh pendidikan sains yang bisa mencicipi sedikit, apa itu sains yang sesungguhnya.

Lain halnya dengan agama. Agama itu untuk semua orang. Baik yang berpendidikan tinggi maupun yang rendah, Baik yang IQ jongkok, maupun yang "terbang".

Lha, kalok betul buat semua orang, maka ndak mungkin pesannya disampaikan melalui kecanggihan argumennya! Agama yang mengandalkan diri pada argumen yang canggih untuk membuktikan kebenarannya, pastilah bukan agama untuk semua orang! Sebab, kalau demikian, hanya yang otaknya berpendidikan tinggi saja yang bisa menikmati agama.

Monday, May 29, 2006

Sesudah Bencana



Saat ini bantuan mengalir cukup deras ke Yogyakarta dan sekitarnya. Namun lambat atau cepat aliran itu akan berhenti.
Padahal ribuan (atau mungkin puluhan ribu) orang kehilangan tempat tinggal. Banyak orang kehilangan sanak saudara. Banyak anak-anak yang tidak dapat lagi sekolah karena kehilangan orang tua. Banyak orang yang menderita trauma.
Siapa yang kelak akan menolong mereka? Bukan hanya secara material, tetapi juga bantuan psikologis.
Pada waktu bencana tsunami aceh, banyak rekan-rekan yang memilih untuk mengirim bantuan - berupa uang - kepada LSM atau lembaga yang mempunyai program jangka panjang, dan telah mempunyai pengalaman kerja cukup lama. Mereka cenderung menghindari mengirim ke LSM atau lembaga dadakan yang hanya "hangat-hangat tahi ayam", bekerja untuk program jangka pendek. Di lain pihak, mereka juga cenderung menghindari mengirim bantuan melalui organisasi-organisasi raksasa, karena biasanya akan memotong sekian persen untuk biaya operasional.

Friday, May 26, 2006

Menjadi Manusia

Manusia yang baik, akan beragama secara baik. Jadi beragama secara baik adalah akibat dari kesuksesan sebagai manusia.

Para agamawan/ulama di indonesia berusaha meyakinkan semua orang bahwa agama bisa menyelesaikan problem-problem di indonesia (umpamanya korupsi). Namun kenyataannya tidak demikian! Katanya orang indonesia sangat religius, tapi tingkat korupsi di indonesia juga sangat tinggi. Apakah kalau indonesia diubah menjadi negara agama, semua problem akan teratasi? Saya yakin tidak!

Iman dan Kesaksian



Yang namanya Tuhan itu pan hadir di mana-mana, mendatangi semua manusia. Jadi, sak-jane SEMUA manusia itu mampu bersaksi! Tetapi tidak semua manusia menyadarinya. Jadi sakbenarnya "tahu", tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. "Mampu" tetapi tidak menyadari bahwa ia "mampu". Itulah sebabnya Sang Buddha tidak mengajarkan kebenaran, melainkan "membangunkan" orang (awakening).

Karena itu di dalam teksbuk teologi (katolik), "iman" tidak diartikan sebagai "percaya kepada .... ", melainkan diartikan sebagai "tanggapan terhadap ...".

Urutannya: Seorang manusia mengalami kasih Tuhan (mampu bersaksi), sebagai akibatnya ia menanggapi kasih Tuhan itu. Tanggapan itulah yang disebut "iman".

Jadi mampu bersaksi dahulu, baru iman! (Seringkali orang menyebut injil sebagai "kesaksian iman").

Saya tahu, ini pasti akan membingungkan. Yang membaca posting ini akan bertanya-tanya: "Lha, kalau begitu, apakah iman itu sebenarnya?"

Apapun jawabannya, yang tidak saya setujui adalah kalau iman diperlawankan dengan "belum mampu bersaksi". Yang tidak saya setujui adalah bahwa manusia dibagi dua golongan, yaitu segelintir orang yang telah mencapai puncak spiritualitas ("mampu bersaksi") dan mayoritas
sisanya yang "hanya" punya iman saja!

Sejak awal saya menolak pembagian itu. Dan dengan segala kehendak bebas, saya memilih untuk menjadi bagian dari mayoritas umat manusia, dan sampai saya mati nanti saya TIDAK MAU menjadi bagian dari segelintir manusia yang katanya telah mencapai puncak spiritualitas
tersebut.

Jika hanya segilintir (0,00001%) umat manusia yang telah mencapai puncak, maka saya dengan tegas memilih untuk menjadi bagian dari 99,99999% umat manusia.

Saya menolak untuk bergerak naik menuju puncak. Saya memilih untuk bergerak turun kebawah.

Sunday, May 21, 2006

Membaca Bible



Orang kristen tidak membaca kitab sucinya sendirian, tetapi membacanya *di dalam persekutuan*, artinya kitab suci dibaca dalam persekutuan dengan umat beriman lain - kini, di masa lampau dan mungkin juga di masa depan - dan dibaca bersama-sama dengan Tuhan sendiri.

Pemahaman terhadap kitab suci bukan sekadar pemahaman logika individual yang membaca huruf-huruf mati di atas kertas. Jika demikian, yang diperoleh hanyalah pemahaman sempit harafiah, bahkan mungkin sama sekali keliru.

Pemahaman terhadap kitab suci adalah pemahaman yang diperoleh melalui pembacaan di dalam persekutuan, yaitu persekutuan seluruh umat beriman dan Tuhan (yang secara luas diartikan sebagai "gereja"). Saya percaya bahwa itulah satu-satu cara membaca kitab suci yang benar. Saya juga percaya bahwa ketika kitab suci itu ditulis, maka kitab suci ditulis dengan tujuan bahwa kitab suci akan dibaca secara demikian. Dan tidak dengan cara lainnya.

Mengembangkan Diri?



Kalau seseorang berbuat baik karena ingin menjadi orang baik, maka ia tak akan sungguh-sungguh menjadi orang baik. Namun jika ia berbuat baik demi kebaikan itu sendiri, maka ia akan menjadi orang baik!

Kalau seorang berlatih gitar karena ingin menjadi pemain gitar yang hebat, kemungkinan besar ia takkan menjadi pemain gitar yang hebat. Namun jika ia bermain gitar karena ingin mendengarkan permainan musik yang sungguh ia sukai, maka ia akan menjadi pemain gitar yang hebat.

Yang menghalangi seseorang untuk mencapai kepenuhan diri, adalah keinginan untuk mencapai kepenuhan diri. Yang menghambat pengembangan diri, adalah usaha untuk mengembangkan diri.

Seharusnya, manusia men-transendensi diri dan bergerak menuju makna demi makna itu sendiri. Kalau ia mencapai kepenuhan diri, pencerahan, atau menemukan jati diri, maka itu adalah efek sampingan atau akibat yang baik.