Monday, September 5, 2005

Mayoritas dan Minoritas

Mayoritas dan minoritas.

Mayoritas dan minoritas bisa saja hidup damai berdampingan secara
harmonis. Namum mayoritas bisa melihat minoritas sebagai ancaman.
Dan sebaliknya, minoritas melihat mayoritas sebagai tirani yang
menindas, dus menjadi ancaman juga.

Barangkali mayoritas menjadi tirani karena melihat minoritas
sebagai ancaman. Atau minoritas menjadi ancaman justru akibat
tirani mayoritas.

Apapun juga, titik tolak permasalahannya terletak pada kata
"ancaman" tadi. (Atau dalam skala lebih rendah, sering disebut
"gangguan").

Bagi seseorang yang sehat dan kuat, penyakit flu bukanlah
ancaman. Lain halnya bagi seseorang yang berbadan lemah, penyakit
flu bisa menjadi ancaman yang menakutkan (di amerika, misalnya
ratusan bahkan tibuan orang meninggal karena flu setiap tahunnya,
kebanyakan orang-orang yang lanjut usia atau anak-anak yang
berbadan lemah).

Salah satu sebab minoritas dianggap sebagai ancaman adalah
ketakutan bahwa minoritas akan menjadi besar (dan tidak lagi bisa
disebut "minoritas"). Sebab lain, adalah meskipun jumlahnya
sedikit, namun jika memegang power yang besar, maka akan menjadi
kekuatan penentu.

Nampak jelas di sini bahwa mayoritas yang lemah cenderung akan
melihat minoritas sebagai ancaman. Anehnya, menghadapi situasi
ini, mayoritas lantas menjadi tirani, yang justru membuktikan
kekuatan mayoritas terhadap minoritas!

Mayoritas Agama

Sebagi contoh yang paling mudah, maka kita bisa melihat dikotomi
mayoritas-minoritas agama.

Mayoritas agama yang kuat dalam iman dan penghayatannya,
seharusnya tidak akan melihat minoritas agama apapun sebagai
ancaman. Bahkan seandainya-pun kaum minoritas itu menyebarkan
agamanya dengan cara yang paling agresif sekalipun.

Biasanya, salah satu argumen yang sering diajukan adalah bahwa
orang yang kondisi ekonominya rendah mudah menjadi murtad melalui
iming-iming atau bantuan ekonomi. Dengan mengabaikan kenyataan
bahwa tuduhan itu seringkali tidak benar, pertanyaan yang muncul:
"Apakah iman seseorang itu tergantung pada kondisi ekonominya?"
Bukankah salah satu ujian iman adalah ketika seseorang berada
pada kondisi yang sulit?

Bukankah argumen di atas malah menunjukkan suatu masalah yang
lebih mengakar: yaitu bahwa ada sekelompok orang yang tanpa sadar
menganut anggapan bahwa mayoritas di indonesia adalah mayoritas
yang lemah!

Argumen lain: secara umum mayoritas di indonesia adalah mayoritas
yang kuat. Tapi ada sekelompok masyarakat yang lemah iman, yang mudah
digoyahkan oleh minoritas. Jika demikian, bukankah menjadi
kewajiban mayoritas itu untuk memperkuat anggotanya yang lemah?
Menghalau kaum minoritas tidak akan menutupi kenyataan bahwa ada
golongan yang dalam keadaan lemah.

Akhirnya, meskipun seseorang adalah anggota dari mayoritas atau
minoritas, jangan dilupakan bahwa setiap manusia adalah individu
yang utuh dengan hak dan kewajiban yang ditanggung sebagai
individu yang bermartabat.

Sampai batas-batas tertentu, kelompok masyarakat bisa memberi
anjuran-anjuran kepada anggotanya, tetapi keputusan terakhir
tetap di tangan individu yang bersangkutan.