Thursday, October 3, 2002
Our Purpose
Tuesday, September 3, 2002
Agama Yang Benar
Agama yang benar dinilai dari keberhasilannya menghasilkan manusia yang luhur, manusia yang berbakti kepada Tuhan dengan segenap jiwa raganya, dan manusia yang mampu mencintai tanpa syarat.
Adam dan Hawa
Sunday, September 1, 2002
Tuesday, November 20, 2001
Semar Mendhem
"Semar Mendhem" jelas berbeda dengan Semar. Semar Mendhem adalah nama kue yang cukup digemari di pulau jawa. Tapi "mendhem" bisa juga berarti mabok. Jadi Semar Mendhem artinya "Semar Mabok". Kalau Semar, yang adalah tokoh pewayangan itu, adalah tokoh yang pantas dikagumi, maka Semar Mendhem hanyalah seorang pengagum semar yang mabok, yang ngawur terbentur-bentur, berkeliaran ke sana kemari, berpetualang dan mencari tanpa tahu persis apa yang dicari.
Meskipun mabok, toh si Semar Mendhem ini masih bisa sedikit berpikir dan menggunakan logika-nya, meskipun hanyalah logika yang paling sederhana. Itulah sebabnya ia menyukai istilah "Logika Sederhana".
Namun logika hanyalah sekedar sarana untuk menuangkan ke dalam tulisan apa yang diperoleh melalui petualangan ngawur si Semar Mendhem ini. Sebagai mana umumnya orang yang mabok, petualangan si Semar Mendhem jelas sama sekali tidak dikendalikan oleh logika.
Salam
"Semar Mendhem"
Bahan:
500 gram ketan, rendam selama 2 jam
500 ml santan kental
3 lembar daun salam
1 batang serai, memarkan
1 sdt garam
1 batang daun pandan, cabik-cabik
Bahan Kulit:
4 butir telor
4 sdm tepung terigu
225 ml susu cair/air
1/2 sdt garam
Bahan isi:
1 dada ayam, rebus lalu suwir-suwir
3 lembar daun salam
5 lembar daun jeruk, buang tulangnya, robek-robek
1 batang serai, ambil putihnya
250 ml santan kental
4 sdm air asam jawa
1/2 sdt kaldu ayam bubuk
Minyak goreng secukupnya
Bumbu haluskan:
7 siung bawang merah
5 siung bawang putih
5 butir kemiri sangrai
1 sdm ketumbar bubuk
1 sdt jintan
2 sdm gula pasir
2 sdt garam
Cara Membuat:
1. Kukus ketan setengah matang lalu angkat. Masak bersama santan,
garam dan daun pandan sampei santan menyerap. Kukus ketan kembali
sampai matang.
2. Isi: Tumis bumbu halus beserta daun salam dan daun jeruk
sampai harum.
3. Tambahkan air asam, santan, kaldu ayam bubuk dan ayam suwir.
Masak sampai santan habis. Angkat.
4. Kulit: Kocok telor sampai tercampur rata. Lalu masukkan
tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata dan
licin.
5. Beri air dan garam, aduk sampai rata.
6. Buat dadar tipis-tipis, lakukan sampai adonan habis.
7. Penyelesaian: Ambil 3 sdm ketan, pipihkan lalu beri adonan
isi. Bulatkan kembali lalu bungkus dengan dadar, gulung seperti
lumpia.
Sunday, June 3, 2001
Mendengar Tuhan
Sungguh luar biasa bahwa ada mistik yang justru peka terhadap pengalaman ketidak hadiran Tuhan. Saya sendiri hanya orang katolik biasa. Bukan mistik, apalagi kudus. Disebut orang katolik yang baik pun, barangkali belum pantas. Kalau ada mistik yang mengalami pengalaman ketidak hadiran Tuhan, pengalaman apa yang bakal saya peroleh?
Saya tidak tahu.
Ketika saya membuka alkitab, pesan apakah yang saya baca? Saya membaca perintah untuk mencintai. Mencintai Tuhan dengan segenap hati. Dan mencintai sesama, seperti Tuhan mencintai manusia. Saya belum pernah mendengar suara Tuhan. Tetapi jika saya bisa mendengar suara Tuhan, apakah yang akan saya dengar? Barangkali hanya satu kata saja: "Cintailah .. !!!".
"Cintailah, dan lakukan apa saja yang kau mau", begitu seorang santo pernah berkata. Mungkin Musa pernah mendengar suara Tuhan. Saya tidak tahu. Seandainya Tuhan berbicara kepada Musa, apakah Tuhan akan berbicara tentang detail-detail kehidupan sehari-hari, seperti di mana Musa harus meletakkan kemah, kapan harus menjual unta, dsb.? Ataukah Tuhan akan berbicara tentang hal-hal besar, seperti "10 perintah Allah", misalnya?
Saya tidak tahu.
Barangkali Tuhan tidak pernah berbicara secara langsung kepada saya, sebab Dia ingin supaya saya memutuskan sendiri apa yang mesti saya lakukan. Barangkali dengan memutuskan sendiri semua yang harus saya lakukan, maka apa yang saya lakukan baru dapat menjadi "Cinta". Sebab cinta sejati hanya mungkin jika lahir dari kehendak bebas, bukan?
Barangkali juga Tuhan selalu berbicara secara langsung kepada saya.Hanya sayalah yang terlalu tuli, tidak dapat mendengar. Mengapa? Sebab apa yang dikatakan Tuhan kepada saya ternyata sama persis seperti yang tertulis di dalam kitab suci: "Cintailah ....!".
Saya tidak tahu.
Sementara ini, sambil menunggu, saya akan berdoa. Dan berusaha menjaga iman, yang lebih kecil dari biji sesawi ini.
Monday, November 20, 2000
Siapakah Semar?
Oleh JAKOB SUMARDJO
PARA pencinta wayang kulit Jawa tentu tak asing lagi dengan tokoh Semar. Setiap pertunjukan tokoh ini selalu hadir. Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya.
Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar. Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).
Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.
Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian paradoks-paradoks yang rumit.
Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, Semar mahadewa di dunia bawah. Batara Guru penguasa kosmos (keteraturan) Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.
Batara Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat paling jelata. Batara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan -- kebijaksanaan. Batara Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa wangsalan (sastra).
Batara Guru lebih banyak marah dan mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.
Batara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Batara Guru selalu hidup di lingkungan yang "wangi", sedang Semar suka kentut sembarangan. Batara Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.
Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit. Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Batara Guru dan Batara Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih "tua"? Jawabannya terdapat dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).
Ketika Batara Semar protes kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal?) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya "ada" itu "tidak ada", sedangkan yang "tidak ada" diterka "bukan", yang "bukan" diterka "ya".
Dengan demikian Batara Semar lebih "tua" dari adiknya Batara Guru. Semar itu "kakak" dan Batara Guru itu "adik", suatu pasangan kembar yang paradoks pula.
Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.
Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor.
Kulitnya, luarnya, kasar, sedang dalamnya halus. ** DALAM ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni "manunggaling kawula-Gusti" (kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar ini.
Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.
Hukum-hukum negara yang baik dari atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Batara Guru, tetapi Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.
Semar adalah kakak lebih tua dari Batara Guru yang terhormat dan penuh etiket kenegaraan-kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.
Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di bawah.
Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap, digantikan oleh "yang lain".
Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah. Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang, sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai anugerah. Batara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Batara Lengser.
Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi "turun". Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang turun ke lapis paling bawah. Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas singgasananya yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang dihujat bawahanbawahannya. Seorang pemimpin tidak marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi rakyat.
Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang. Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.
Dewa Kekayaan berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga, yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan dengan watak Dewa Kasih Sayang.
Seorang pemimpin harus membela kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.
Dewa Api (keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut berseberangan dengan watak Dewa Angin.
Menumpas kejahatan dalam negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.
Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi hamba.
Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas, tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan.
KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI
WECAN TUNJUNG SETA
TUMEKA KAKI SEMAR
GINUBAH DENING : PANEMBAHAN PRAMANA SETA ING GIRIMAYA
dandang gulo
1.INGSUN MELING MRING SIRA KALIHNYA
KANG DADYA SESENGGEMANE
NGIRIDA GUNG LELEMBUT
BALA SILUMAN NUSA JAWI
KABYANTOKNA SANG NATA
H E R U C A K R A P R A B U
NATA TEDHAKING BARATA
WIJILIRA ING KETANGGA SONYARURI
SAJRONING ALAS PUDHAK
2.DUK TIMURNYA BABARAN SURANDHIL
INGKANG IBU TEDHAKING MATARAM
KANG RAMA TRAHING RASULE
G I N A I P M I Y O S I P U N
SANG TUNJUNG SETA JEJULUK NEKI
DUK SIH KINEKER MARANG HYANG
KESAMPAR KESANDUNG
JALMA SAMYA KATAMBUHAN
TAN WIKAN MRING PUDHAK SINUMPET SINANDI
DEWA MANGEJAWANTAH
3.WUS PINASTI KANG MURBENG DUMADI
SANG TUNJUNG SETA KINARYA DHUTA
JUMENENG PARANPARANE
N G A D I L I N U S A N I P U N
NGASTHA DARMANING UMUM’
KALIS ING MAYANE NDOYA
WUS WINELEG MUKTI WIBAWANING DIRI
ING KETANGGA SILUMAN
4.SATRU MUNGSUH SAMYA HANGEMASI
TUMPES TAPIS KATAMAN PRABAWA
KASEKTEN SABDA CIPTANE
NGGEGIRISI BALANIPUN
WUJUD KALABANG KALAJENGKING
S I R U L L A H A J I N I P U N
P R A J U R I T L E L E M B U T
IKU KANG WEKAS INGWANG
SIRA NDEREK ANGEMONG ING TEMBE WURI
SANG NATA BINATHARA
5.WONG CILIK SAMYA SUKA ING ATI
GUMUYU MURAH SANDHANG LAN TEDHA
GUYUB RUKUN SESAMANE
SAMYA MADHEP SUMUJUD
NGARSENG HYANG WIDHI LAN NJENG GHUSTI
W E D I W E W A L A T I R A
WINGITING SANG RATU
MANANGKA JAMAN KENCANA
KAKANG SEMAR GYA TINDAKNA WELING MAMI
NGIRIDTA GUNG LELEMBUT
6.MANANGKA WELINGE SANG AJI
SRI JAYABAYA NATA BINATHARA
MRING SANG PAMONG KALIHE
KAKANG SEMAR UMATUR
PUKULUN JAYABAYA AJI
PUN KAKANG WUS ANAMPA
KABEH SABDANIPUN
DADYA PASEKSENING JANGKA
MANGEJA WANTAHIRA PADUKA AJI
SANG NATA BINATHAR
7.JUMENENGIRA GUSTHI PRIBADI
LAMUN JANGKANING NUSA TUMEKA
NORA ENDHAS LAN BUNTUTE
PUN KAKANG WUS SUMAGGUH
NGEMONG SANG TUNJUNG SETA AJI
LAN NGIRID BYANTOKNA
S A G U N G I N G L E L E M B U T
SINEGEG WAWAN SABDANYA
SRI JAYABAYA LAN PAMONGNYA KEKALIH
MECA JANGKANING NUSA