Monday, November 15, 2004

Silence

A quite pond,
the water's like a mirror.
A frog jumps, a short splash, and a small ripple.

The silence grows

Tuesday, November 9, 2004

Takdir?

Seorang karyawati pulang kemalaman. Di jalan dia dirampok, diperkosa,
lalu dibunuh.

Dengan berlinang air mata, keluarga korban berkata:"Kami sudah pasrah
dengan musibah ini. Ini semua sudah menjadi Takdir Yang Maha Kuasa".

Benarkah ini takdir yang maha kuasa? Jika demikian, si
perampok/pemerkosa itu hanya sekedar menjalankan kehendak yang maha
kuasa? Berarti dia nggak punya pilihan lain, sebab semua itu sudah
ditakdirkan? Apakah ini berarti bahwa kejahatan ini memang menjadi
bagian dari rencana yang maha kuasa? Bukankah ini berarti bahwa bukan
saja kejahatan itu dibiarkan oleh tuhan, melainkan bahkan tuhan itu
sendiri yang menciptakan kejahatan!

Ataukah tuhan "tidak setuju" dengan kejahatan itu, tetapi dia
membiarkan kejahatan itu terjadi? Dia tidak mencegah kejahatan itu,
setelah itu bukan saja dia membiarkan si korban dan keluarganya
menderita, dia juga harus menghukum si pelaku kejahatan, dan mungkin
harus memasukannya ke neraka, jika dia tidak bertobat. Bukankah lebih
sederhana, jika tuhan mencegah kejadian itu sebelum terjadi?

Friday, November 5, 2004

Words

Words, written on a piece of paper.
Talking about the people, bread, fried chicken, the city, the wood, the flower, the cloud,
the smell of a cup of coffee,
even about God.

I am reading those words.

I am hungry.
I put away the paper, and go out to get something to eat.

Kisah si Orang Gila

Pada suatu hari sebuah kapal menabrak karang, hancur tenggelam. Dari semua penumpang, hanya satu orang yang selamat dan terdampar di sebuahpulau terpencil, tidak dikenal, dan tidak ada di peta manapun.

Alangkah terkejutnya orang tersebut ketika menjumpai bahwa penduduk pulau itu gila semuanya! Mereka tertawa terbahak-bahak, berlari-lari kesana kemari, menyanyi menari, kadang-kadang tanpa mengenakan selembar benangpun.

Usut punya usut, ternyata mereka menjadi gila karena meminum mata air dari sebuah gua. Di dinding gua itu tertulis catatan sejarah, bagaimana penduduk di pulau itu menemukan mata air tersebut, meminumnya, dan satupersatu menjadi gila.

Tentu saja si pendatang tidak akan meminum air tersebut. Siapa yang ingin menjadi orang gila?

Hari demi hari si pendatang termenung sendiri, memandang para penduduk sibuk tertawa, menyanyi, menari.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan. Si pendatang merasa sangat kesepian. Ia tidak bisa bergaul dengan para penduduk, apalagi ikut tertawa dan menari. Setiap kali ia datang mendekat, mereka menjauh ketakutan sambil berteriak-teriak: "Orang gila!Orang gila! ..."

Akhirnya dia tidak tahan lagi. Dengan berlari-lari ia mendaki bukit, memasuki gua dan meneguk air dari mata air.

Dengan terbahak-bahak ia bergabung dengan para penduduk, bernyanyi dan menari. Ia merasa sangat berbahagia. Ia bukan lagi si pendatang.

Thursday, November 4, 2004

Naik Level?

Sebenarnya semua orang mestinya ya ingin mencapai "level yang tertinggi". Malah untuk itulah sebenarnya manusia diciptakan. Hanya memang banyak halangannya. Tapi sebenarnya semua halangan itu-lah yang membentuk manusia dalam perjuangannya. "Terbentur-bentur Terbentuk ...." Ngomong-ngomong soal Tuhan, Gus Dur pernah bilang:"Tuhan itu nggak perlu dibela ...". Lha, mosok yang lemah mau membela yang kuat? Sebenarnya justru Tuhan yang membela manusia, bukan manusia yang membela Tuhan! Yang harus dibela itu kan yang lemah dan tertindas, bukan yang Maha Kuasa.

Inti sari agama, surga, dan neraka itu begini:

1. Berhenti mencari Tuhan. Duduk diam, dan sadarilah: Tuhan sudah terlebih dahulu mencari manusia, sebelum manusia mencari Tuhan.

2. Orang yang beragama mengejar pahala supaya masuk surga. Tetapi orang yang mencapai pencerahan tahu bahwa bukan manusia yang berusaha masuksurga, tetapi surga yang berusaha memasuki manusia.

3. Apa itu neraka? Kejahatan bertahta begitu hebat dalam hati manusia, sehingga ketika surga mendekat, manusia malah berlari menghindar!

Kapan seseorang mencapai pencerahan? Pencerahan nggak bisa dijadwal. Itulah bedanya dengan orang beragama. Orang agama berlari ngos-ngosan mengejar pahala dan surga. Tetapi untuk mencapai pencerahan orang harus duduk, diam, hening, .... dan menunggu!


Tuesday, November 2, 2004

Titik Temu Agama-agama

Salah seorang tokoh penting yang sepanjang hidupnya mencari titik temu
antar agama-agama adalah Frithjof Schuon (1907-1998). Sepanjang
hidupnya, beliau telah menulis lebih dari 20 buku tentang agama dan
spiritualitas.

Di dalam suatu wawancara beliau mengatakan sebagai berikut:
"Saat ini nampaknya ada begitu banyak agama, yang kelihatannya ekslusif
satu sama lain. Artinya, kalau satu benar, maka lainnya pasti keliru.
Atau kemungkinan lain: semuanya keliru. Namun ini tidak benar. Yang
benar adalah, semuanya benar".

http://www.frithjof-schuon.com

Bagaimana bisa demikian?

Menurut Beliau ada dua level penghayatan terhadap agama, yaitu
"eksoterik" dan "esoterik".

1. Pada level Eksoterik, orang memfokuskan diri pada kelembagaan agama,
pada ritual, ajaran resmi, pembacaan kitab suci secara literal, pada
aturan-aturan, larangan dan perintah, dogma-dogma, dst. Pada level ini
agama-agama nampak begitu berbeda satu sama lain, bahkan seringkali
nampak bertentangan. Pertentangan, saling menghujat, bahkan perang agama
terjadi karenan orang berhenti pada level ini saja.

2. Level Esoterik, adalah penghayatan spiritual yang paling dalam. Pada
level inilah terjadi titik temu antar agama.

Tentu saja penjelasan beliau nggak sesederhana ini. Kalau ada yang
tertarik ingin membaca salah salah satu bukunya telah diterjemahkan ke
bahasa indonesia oleh yayasan obor.

Salah satu catatan beliau, adalah bahwa level eksoterik itu sangat
penting, sebab orang nggak bisa mencapai level esoterik tanpa melalui
eksoterik. Repotnya, agama sering menjadi masalah justru karena orang
hanya berhenti pada level eksoterik belaka.

Jadi rupa-rupanya problem antar-agama justru teratasi manakala orang
menghayati agamanya sendiri hingga level yang terdalam.

=========================================
Sumber:
1. Frithjof Schuon, "The Transcendent Unity of Religions"
2. http://www.frithjof-schuon.com


Monday, November 1, 2004

Forget

The teacher, the class, the books,
give you a list about things
that you should remember.

The birds, the sky, the trees,
give you a list about things
that you should forget.

Sometimes,
Unlearning is more important than learning.
Listening is more important than talking.
Forgetting is more important than remembering.